SANDAKAN, 20 September 2026 — Sebanyak 134 Guru Bina Community Learning Center (CLC) dari berbagai wilayah di Sabah mengikuti Fasilitasi Guru Bina CLC Wilayah Sabah Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 18–20 September 2026 di Hotel Sandakan, Sabah.
Mengusung tema “Meningkatkan Akuntabilitas Tata Kelola, Menorehkan Jejak dengan Warisan Karya Abadi untuk CLC”, kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas Guru Bina, tidak hanya dalam aspek tata kelola lembaga, tetapi juga dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sabah.
Bagi CLC, peningkatan kompetensi guru merupakan bagian penting dari upaya memastikan layanan pendidikan tetap berjalan secara berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan posisi CLC sebagai bagian dari layanan pendidikan bagi anak-anak PMI di Malaysia yang membutuhkan dukungan pengelolaan dan pembelajaran secara konsisten. Pada kegiatan fasilitasi sebelumnya, peran guru juga ditekankan sebagai salah satu kunci dalam memastikan kualitas layanan pendidikan CLC di tengah berbagai keterbatasan di lapangan.
Fasilitasi tahun ini diarahkan pada dua agenda utama, yakni penguatan akuntabilitas tata kelola dan pengembangan inovasi bahan ajar berbasis Artificial Intelligence (AI).
Pada aspek tata kelola, kegiatan difokuskan pada penuntasan serah terima tugas tambahan Guru Bina serta pemeriksaan dan penertiban laporan keuangan CLC. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan administrasi dan pengelolaan CLC berjalan secara tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, pada aspek pembelajaran, para guru mendapatkan pengalaman baru dalam mengembangkan bahan ajar berupa story book atau buku cerita dengan memanfaatkan teknologi AI. Inovasi ini diharapkan dapat membantu Guru Bina menghasilkan bahan ajar yang lebih kontekstual, menarik, serta dapat digunakan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran.
Apresiasi atas Dedikasi Guru Bina
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 18 September 2026, dan dilanjutkan dengan pembukaan resmi pada Sabtu, 19 September 2026.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Konsul Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Kota Kinabalu, Ibu Machdaniar Nisfah, yang hadir mewakili Kepala Perwakilan RI Kota Kinabalu. Acara dipandu oleh Bapak Andi Yaqub Taufik, S.Pd., Gr. dan Bapak Juliandi, S.S.T., M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sahyuddin, S.Pd., MA TESOL, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para Guru Bina yang selama ini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Sabah.
Menurutnya, keberlanjutan layanan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh program dan kebijakan, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang menjalankannya di lapangan. Karena itu, proses transisi dan serah terima tugas perlu dilakukan dengan baik agar keberlanjutan layanan pendidikan di CLC tetap terjaga.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan mengingat para pendidik di CLC menghadapi karakteristik pembelajaran yang khas. Pada penyelenggaraan fasilitasi sebelumnya, Guru Pamong CLC menghadapi tantangan seperti mengampu berbagai mata pelajaran sekaligus serta mengelola kelas dengan tingkat kelas yang beragam karena keterbatasan rasio guru.
Dalam konteks tersebut, fasilitasi tidak sekadar menjadi agenda peningkatan kapasitas, tetapi juga menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat jejaring antarguru.
Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Kuala Lumpur, Bapak Ahmad Romadhoni Surya Putra, Ph.D., mengingatkan pentingnya menjaga komitmen pengabdian, memperkuat akuntabilitas tata kelola, serta terus mengapresiasi kontribusi Guru Bina dalam memastikan pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak Indonesia.
Pesan tersebut mempertegas bahwa pengabdian di CLC memiliki dimensi yang lebih luas. Guru tidak hanya hadir untuk mengajar, tetapi juga turut menjaga keberlangsungan layanan pendidikan Indonesia di tengah masyarakat Indonesia di luar negeri.
Dari Administrasi hingga Karya Pembelajaran
Salah satu bagian penting dalam kegiatan fasilitasi tahun ini adalah pemeriksaan dan penertiban laporan keuangan CLC. Proses tersebut berlangsung secara cermat hingga hari terakhir kegiatan.
Penataan administrasi dan laporan keuangan menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola CLC yang semakin tertib dan akuntabel. Dengan administrasi yang baik, setiap program yang dilaksanakan dapat terdokumentasi secara jelas dan menjadi dasar bagi pengembangan layanan pendidikan pada masa mendatang.
Namun, kegiatan tidak berhenti pada penguatan administrasi. Para Guru Bina juga diajak melihat perkembangan teknologi sebagai peluang untuk menciptakan bahan ajar baru.
Melalui materi “How to Publish a Storybook” yang disampaikan oleh Dr. Panji Pratama, S.S., M.Pd., peserta diperkenalkan pada pemanfaatan Gemini AI untuk membantu proses pengembangan buku cerita sebagai bahan ajar.
Para guru tidak hanya diperkenalkan pada penggunaan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk memahami bagaimana memberikan instruksi yang tepat kepada AI melalui penyusunan prompt. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah formula PAK BEO, yakni Peran, Aksi, Konteks, Bentuk, dan Output.
Formula tersebut membantu guru menyusun kebutuhan secara lebih sistematis sebelum menghasilkan konten melalui AI. Setelah memperoleh keluaran dari teknologi, guru tetap memiliki peran penting untuk melakukan evaluasi, penyuntingan, dan penyempurnaan sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Tahap berikutnya adalah penyempurnaan tampilan buku menggunakan aplikasi Canva. Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti peran guru, melainkan sebagai alat bantu untuk memperluas kreativitas dan produktivitas guru dalam menghasilkan bahan ajar.
Memanfaatkan AI secara Kreatif dan Bertanggung Jawab
Pemanfaatan AI dalam pengembangan story book menjadi salah satu warna baru dalam fasilitasi Guru Bina tahun ini.
Bagi guru yang bekerja dalam konteks CLC, kemampuan mengembangkan bahan ajar secara mandiri menjadi semakin penting. Kondisi setiap CLC yang berbeda membutuhkan kreativitas dalam menyesuaikan pembelajaran dengan lingkungan, karakter peserta didik, serta sumber daya yang tersedia.
Pengembangan buku cerita berbantuan AI membuka peluang bagi guru untuk mengangkat berbagai konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Cerita dapat dikembangkan sebagai media untuk menyampaikan pesan pembelajaran sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan dunia anak.
Pada saat yang sama, proses tersebut tetap membutuhkan sentuhan profesional guru. Guru berperan dalam menentukan tujuan pembelajaran, memilih konteks cerita, menilai kesesuaian isi, memperbaiki bahasa, serta memastikan bahan yang dihasilkan benar-benar layak digunakan oleh peserta didik.
Dengan demikian, teknologi menjadi bagian dari proses kreatif, sementara keputusan pedagogis tetap berada pada tangan pendidik.
Menguatkan Sinergi CLC dan Gugus
Selain inovasi bahan ajar, penguatan organisasi menjadi agenda strategis lainnya. Materi “CLC dan Gugus” yang disampaikan oleh Ibu Lia Anggraeni, S.Pd., M.Pd., Gr. dan Ibu Ayla Yuli Rokhman, S.Pd., M.Pd. memberikan penguatan mengenai tata kelola, koordinasi, serta sinergi antargugus dalam pelaksanaan layanan pendidikan CLC di wilayah Sabah.
Penguatan koordinasi menjadi penting karena CLC tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik dan tantangan yang tidak selalu sama. Jejaring antarguru dan antargugus menjadi modal penting untuk saling berbagi praktik baik, menyelesaikan persoalan bersama, serta menjaga kualitas layanan pendidikan.
Semangat kolaborasi tersebut juga telah menjadi bagian dari dinamika pengembangan kompetensi guru CLC pada kegiatan sebelumnya. Dalam fasilitasi CLC SMP 2025, misalnya, para guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai praktik dan saling berbagi pengalaman untuk memperkaya pengetahuan.
Dari Fasilitasi Menjadi Warisan Karya
Tiga hari pelaksanaan fasilitasi akhirnya menjadi ruang pertemuan antara dua kebutuhan penting: tertib dalam tata kelola dan kreatif dalam pembelajaran.
Pada Minggu, 20 September 2026, kegiatan ditutup setelah proses finalisasi pemeriksaan laporan keuangan dan rangkaian agenda fasilitasi diselesaikan.
Sebanyak 134 Guru Bina diharapkan membawa pulang lebih dari sekadar materi pelatihan. Mereka membawa semangat untuk memperbaiki tata kelola CLC, memperkuat kolaborasi, serta mengembangkan pembelajaran yang semakin relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Tema “Menorehkan Jejak dengan Warisan Karya Abadi untuk CLC” pun memperoleh makna yang lebih luas. Warisan yang dimaksud bukan hanya berupa dokumen administrasi yang tertata, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan karya pembelajaran yang dapat terus digunakan oleh generasi berikutnya.
Story book yang dikembangkan dengan bantuan AI diharapkan menjadi salah satu bentuk nyata dari warisan tersebut. Buku-buku itu dapat menjadi bagian dari sumber belajar di CLC sekaligus menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk berkarya.
Sebagaimana semangat yang terus dibangun dalam pengembangan kompetensi guru CLC, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pengabdian guru, penguatan kompetensi, dan dukungan tata kelola harus berjalan beriringan agar layanan pendidikan bagi anak-anak PMI tetap dapat berkembang.
Pada akhirnya, fasilitasi ini bukan sekadar tentang menyelesaikan administrasi atau mempelajari teknologi baru. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa setiap langkah pengabdian Guru Bina meninggalkan jejak yang dapat dirasakan manfaatnya oleh peserta didik.
