Kota Kinabalu, Malaysia—Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional setelah tahun lalu menyabet Gold Medal, kini dua siswi berbakat, Kamilia Putri Fathiyyah dan Adinda Shaumi Nuranjani, berhasil membanggakan sekolah dengan meraih Medali Perak dalam ajang bergengsi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025 Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial yang berlangsung pada 10-16 November 2025 di Universitas Surabaya (Ubaya).
Perolehan juara ini didapatkan dengan mengusung karya inovatif berjudul: Gallery of Nusantara (GANTARA): Solusi Jitu Menjaga Keindonesiaan dan Meningkatkan Literasi Budaya Anak PMI Berbasis Kearifan Lokal melalui Augmented Reality (AR), yaitu sebuah media dan sekaligus strategi pembelajaran budaya (kearifan lokal) berbasis Augmented Reality (AR) yang lahir dari ruang kelas sederhana, tetapi berkekuatan gagasan besar.
Prestasi ini bukan hanya pencapaian individu, melainkan sebuah tonggak sejarah yang menegaskan bahwa anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) memiliki potensi akademik dan kreativitas tinggi, meski hidup dan belajar jauh dari tanah air. Dari 2.080 penelitian yang masuk, GANTARA berhasil menembus 29 besar nasional, hingga akhirnya berdiri tegak sebagai finalis peraih medali, membawa harum nama sekolah, keluarga PMI di Malaysia, dan Indonesia.
Kisah dari Tanah Rantau: Saat Identitas Dicari, Inovasi Ditemukan
GANTARA lahir dari kegelisahan sederhana: Mengapa anak-anak PMI di Sabah hanya mengenal sebagian kecil budaya nusantara, padahal mereka adalah generasi penerus Indonesia di luar negeri?
Anak-anak PMI terlahir dan besar di negeri orang yang multikultur. Hal ini menyebabkan sebagian besar anak-anak tersebut mengalami disorientasi budaya karena lebih akrab dengan budaya negeri jiran. Hal ini diperparah dengan minimnya buku budaya, terbatasnya materi ajar, kurangnya akses teknologi, dan tidak adanya media interaktif yang kontekstual. Semua hal ini terakumulasi dan membuat mereka semakin jauh dengan budaya Indonesia karena literasi yang cenderung rendah.
Dari permasalahan itu, Kamilia dan Adinda mencoba membangun jembatan, yaitu jembatan digital yang menghubungkan mereka dengan kekayaan budaya Indonesia. Dengan bimbingan guru pembimbing Zaenal Mutaqin, mereka merancang GANTARA sebagai media pembelajaran yang memadukan:
- ilustrasi (lukisan) manual kearifan lokal karya siswa SIKK,
- uraian budaya berbasis kearifan local hasil kajian literatur dari jurnal nasional,
- AR scanner yang menampilkan objek 3D dari gambar,
- booklet atau flipbook Gantara yang berisikan lukisan tangan dan deskripsi karya,
- Google Sites yang memuat info lebih lengkap dan video budaya dari Sabang sampai Merauke.
Melalui inovasi ini, siswa tidak hanya melihat budaya, tetapi juga mengalami, menjelajahi, dan menghidupkan kembali budaya Indonesia bersama mereka.
Dari Kelas Sederhana ke Panggung Nasional
Saat dipamerkan dalam Final OPSI, GANTARA mencuri perhatian juri karena tiga kekuatan utama:
- Pendekatan budaya yang kontekstual
Selain karya yang otentik dari anak PMI, media ini juga lahir dari kebutuhan nyata anak-anak PMI, merupakan solusi nyata yang dibuat sesuai kondisi lapangan.
- Kreativitas berbasis teknologi terjangkau
Meski tanpa perangkat canggih, GANTARA menggunakan AR sederhana, tetapi efektif sehingga mudah direplikasi di daerah 3T.
- Dampak langsung pada identitas siswa
Anak-anak PMI yang sebelumnya hanya mengenal budayanya saja seperti Bugis, Toraja, dan NTT kini memahami lebih dari 30 kearifan lokal nusantara.
Juri menilai bahwa GANTARA tidak hanya produk teknologi, tetapi juga strategi pemulihan identitas Indonesia pada generasi muda di luar negeri yang terancam kehilangan identitas keindonesiaannya.
Bangga Menjadi Indonesia, Walau di Negeri Jiran
“…Kemenangan medali perak ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Dalam suasana kompetisi nasional yang diikuti oleh sekolah-sekolah terbaik dari seluruh Indonesia, dua siswi SIKK membuktikan bahwa: “Dari Sabah pun, Indonesia bisa bersuara keras”, tegas Pak Zaenal Mutaqin selaku pembimbing tim Gantaraya.
GANTARA tidak hanya memenangkan medali, tetapi juga membawa pesan kuat tentang harapan, kebanggaan, dan persaudaraan bahwa anak-anak PMI mampu menjadi duta budaya yang menghidupkan kembali kekayaan nusantara melalui kreativitas dan teknologi.
Untuk SIKK, Untuk Indonesia, dan untuk Semua Anak PMI
“…Prestasi ini menjadi hadiah istimewa bagi SIKK (CLC), komunitas PMI, dan seluruh pendidik yang terus berjuang memberikan pendidikan terbaik di tanah rantau. Sekolah Indonesia Kota Kinabalu menyampaikan apresiasi besar kepada tim peneliti, para guru, orang tua, dan semua pihak yang mendukung perjalanan tim ini hingga menjadi silver medalist” , ujar Kepala SIKK, Pak Sahyuddin.
GANTARA akan terus dikembangkan dan disebarkan ke berbagai Community Learning Center (CLC) di Sabah dan Sarawak, sebagai bentuk kepedulian SIKK terhadap literasi budaya anak-anak PMI di seluruh Malaysia.
GANTARA adalah bukti bahwa identitas Indonesia dapat tumbuh di mana saja, selama ada hati yang terus merawatnya.
Gantara —Dari anak PMI, Oleh anak PMI dan Untuk anak PMI.(*) (Penulis: Zaenal Mutaqin)
