Kota KInabalu, Malaysia- Sebanyak 42 siswa dan 2 guru Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) berkesempatan mengikuti Program Borneo Regional Dialogue yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cabang Sabah, bertempat di Dewan Tun Mustapha Ujana Sarjana (kamis, 15/01/26).
Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 100 orang peserta yang mayoritas mahasiswa dan dosen dari UiTM, Universiti Malaysia Sabah (UMS), dan City University. Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, antara lain Ustaz Pg. Mohd. Hanif bin Ag. Omar (Pegawai Hal Ehwal Islam merangkap Ketua Unit Istinbat Sabah), Prof. Dr. Hanudin Amin (pakar Islamic Banking & Finance dari Universiti Malaysia Sabah), Prof. Dr. Md. Mahmudul Alam (Professor of Finance, BRAC Business School, BRAC University.
Program ini bertujuan memberikan edukasi agar generasi muda tidak terjebak dalam transaksi keuangan digital yang memberikan “klaim kemudahan transaksi” berlabel “Buy Now Pay Later (BNPL)” atau “beli sekarang bayar nanti”.
Pada sesi Roundtable Dialogue bertema “Designing a Truly Shariah-Compliant, Community-Centric BNPL Model for Responsible Credit Solution”, diskusi menekankan bahwa BNPL yang bertanggung jawab harus dibangun di atas prinsip transparansi akad dan biaya, perlindungan konsumen melalui syarat-ketentuan yang mudah dipahami, serta manajemen risiko agar layanan kredit digital tidak mendorong kebiasaan berutang berlebihan.
Dalam sesi ini, Ustaz Pg. Mohd. Hanif bin Ag. Omar menegaskan bahwa inovasi transaksi modern seperti BNPL dapat diterima dalam kerangka muamalat selama mekanismenya tetap menjaga prinsip syariah, yakni bebas dari dijauhkan dari unsur riba (tambahan yang bersifat bunga/keuntungan atas penundaan pembayaran), gharar (ketidakjelasan akad, biaya, atau syarat), serta praktik zalim/eksploitasi yang membebani pengguna.
Menurut beliau, yang menjadi tolok ukur bukan modern atau tidaknya sistem, melainkan apakah transaksi tersebut adil, transparan, dan tidak membebani pihak mana pun. Beliau juga menekankan bahwa Islam tidak melarang berutang untuk kebutuhan yang nyata dan penting, tetapi melarang menjadikan utang sebagai sarana bermewah-mewahan atau mengikuti gaya hidup konsumtif. Karena itu, penggunaan BNPL harus disertai kesadaran dan tanggung jawab: memahami total pembayaran, jadwal cicilan, serta konsekuensi keterlambatan, sehingga “beli sekarang bayar nanti” benar-benar menjadi alat bantu yang bijak, bukan pemicu beban utang.
Sementara itu, Prof. Dr. Hanudin Amin memaparkan bahwa pesatnya adopsi BNPL di berbagai plattform keuangan digital tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga membawa tantangan serius, terutama bagi generasi muda. Hal itu mendorong konsumsi impulsif karena cicilan dianggap “ringan diawal” padahal berat diakhir sehingga memicu penumpukan cicilan lintas platform tanpa disadari, serta menghadirkan masalah keterbukaan informasi kontrak (syarat-ketentuan panjang/rumit) hingga risiko privasi dan keamanan data pada layanan berbasis aplikasi.
Karena itu, beliau menegaskan bahwa literasi menjadi “tameng” utama agar pengguna mampu membaca ketentuan dengan kritis, menghitung total kewajiban, menilai kemampuan bayar, dan bertransaksi secara bijak sehingga BNPL berfungsi sebagai alat bantu yang terukur, bukan pemicu masalah keuangan.
Sesi kedua, SULAM Global Talk, menghadirkan Prof. Dr. Md. Mahmudul Alam dengan tema “Is Convenience Making Us Poorer? Rethinking Digital Credit through an Islamic Lens.” Ia menyoroti bahwa kemudahan kredit digital dapat menciptakan ilusi “mampu” karena beban pembayaran dipindahkan ke masa depan.
Ketika transaksi terasa sangat mudah (frictionless), seseorang lebih rentan “checkout” tanpa menilai kebutuhan, menormalisasi cicilan sebagai gaya hidup, dan kehilangan kontrol. Dari sudut pandang Islam, ia menekankan pentingnya kesederhanaan dan tanggung jawab dalam mengelola harta agar teknologi finansial membawa ketenangan, bukan stres akibat beban utang.
Pada Student’s Conference, dua mahasiswa UiTM mempresentasikan riset yang dekat dengan realitas anak muda. A.K. Kiming Gunsangal mengangkat penelitian berjudul “Transparency in the Fine Print of BNPL vs EPP in the Malaysian Context: Who Really Protects the Consumer?” yang menyoroti bahwa tantangan BNPL sering bukan pada “boleh atau tidak”, melainkan pada transparansi informasi yang diterima konsumen; fine print atau tulisan kecil pada syarat-ketentuan kerap menjadi bagian paling rawan disalahpahami, terutama saat transaksi dilakukan cepat.
Ia membandingkan BNPL dengan skema cicilan lain seperti EPP (Easy Payment Plan) dari sisi keterbukaan biaya, ketentuan keterlambatan, serta kejelasan hak dan kewajiban pengguna, sekaligus menegaskan pentingnya penyajian informasi yang lebih ringkas dan mudah dipahami agar konsumen muda benar-benar terlindungi.
Sementara itu, Mohd. Danial Hakimi memaparkan studinya berjudul “The Frictionless Factor: A Study on BNPL Usage and Impulse Buying Among University Students in Borneo”, yang menyoroti bagaimana kemudahan BNPL yang serba cepat dan minim hambatan (frictionless) dapat membuat mahasiswa merasa seolah tidak sedang “mengeluarkan uang”, sehingga lebih rentan melakukan belanja impulsif.
Ia menjelaskan bahwa faktor ini semakin kuat karena promosi digital, flash sale, dan proses checkout yang instan, terutama pada mahasiswa yang belum konsisten dalam budgeting dan pencatatan pengeluaran; akibatnya cicilan bisa menumpuk dan mengganggu arus kas. Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi keuangan digital dan kontrol diri, menilai kemampuan bayar, membatasi cicilan aktif, serta disiplin membayar tepat waktu, agar BNPL tetap menjadi alat bantu, bukan pemicu beban keuangan.
Keikutsertaan siswa SIKK dalam program ini menjadi pengalaman penting bagi siswa SIKK untuk memahami BNPL dari berbagai sudut pandang agama, akademik, dan riset serta membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat dan patuh syariah, sebagai mana disampaikan oleh perwakilan siswa dan siswi, seperti Mas Said bin Dwi Winarto (siswa SIKK), dan Fitriani (Siswi SIKK).
Melalui kegiatan ini, ketua penyelenggara program Adilla Binti Majon (UiTm) dan salah satu guru pendamping SIKK, Nurul Hajrah Binti A.Jasin berharap siswa semakin siap menjadi generasi yang melek literasi keuangan digital, cerdas mengambil keputusan, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab sesuai aturan yang berlaku dan nilai-nilai syariah. (Penulis: Muliadin Iwan (Guru SIKK ) Reporter: Nurfarizah Binti Firdaus (Siswa SIKK) )
