Pendidikan adalah hak dasar setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tinggal dan apa pun latar belakang keluarga mereka. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah pendirian Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) di Sabah, Malaysia. SIKK menjadi pusat pendidikan formal bagi anak-anak WNI, terutama anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di perkebunan kelapa sawit. Selain itu, SIKK juga menjadi sekolah induk yang membina seluruh Community Learning Center (CLC) di Sabah dan Sarawak.
CLC sendiri adalah lembaga pendidikan berbasis komunitas yang dibentuk untuk menjangkau anak-anak Indonesia yang tinggal jauh dari kota dan tidak memiliki akses ke sekolah formal. Kehadiran CLC menjadi solusi bagi tantangan jarak, kondisi geografis, dan administrasi, khususnya di wilayah perkebunan yang menjadi tempat tinggal mayoritas pekerja migran.

Berdasarkan data periodik CLC per November 2025, terdapat 298 titik lokasi CLC jenjang SD dan SMP yang tersebar di seluruh wilayah Sabah dan Sarawak, dengan rincian 240 CLC berada di Sabah dan 58 CLC di Sarawak. Namun, dari jumlah tersebut hanya 153 CLC (111 CLC jenjang SD dan 42 CLC jenjang SMP) yang telah memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan Aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) untuk mengelola data sekolah, guru, dan siswa. CLC yang telah memiliki NPSN dikenal sebagai CLC Induk, sementara CLC lainnya yang belum ber-NPSN berstatus sebagai CLC Cabang yang menginduk pada CLC Induk terdekat.
Struktur pengindukan ini sangat penting karena berimplikasi langsung pada aspek administrasi, manajemen data pendidikan, penyaluran dana bantuan operasional, serta pelaporan kegiatan belajar mengajar. Seluruh data siswa dan guru dari CLC Cabang diinputkan ke dalam sistem Dapodik melalui CLC Induk yang memiliki NPSN. Kondisi ini menuntut adanya sistem koordinasi yang rapi, transparan, dan terstandar agar seluruh proses pengelolaan pendidikan dapat berjalan dengan baik dan akuntabel.

Di lapangan, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Banyak CLC berada di wilayah terpencil, dengan jarak antarlokasi yang jauh. Kondisi ini menyebabkan perbedaan kualitas layanan pendidikan, baik dari segi ketersediaan guru, fasilitas belajar, hingga dukungan dari pihak perkebunan. Banyak CLC yang masih mengalami keterbatasan sarana, bahan ajar, akses internet, dan bahkan bangunan sekolah yang belum memadai.
Selain faktor geografis, terdapat pula persoalan manajerial dan administratif. Sebagian besar CLC masih bergantung pada peran guru bina dan pengelola setempat yang tidak selalu memiliki latar belakang pendidikan yang memadai dalam bidang administrasi sekolah. Dalam beberapa kasus, dominasi pihak pengelola yang merupakan tokoh masyarakat atau pemilik fasilitas CLC juga berpengaruh terhadap jalannya kegiatan pendidikan. Hal ini dapat berdampak pada ketidakteraturan pelaporan keuangan, pelaksanaan kurikulum yang tidak seragam, dan lemahnya sistem dokumentasi pembelajaran.
Dalam konteks inilah, Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) memegang tanggung jawab besar untuk membina dan memastikan seluruh CLC beroperasi sesuai dengan ketentuan dan Standar Nasional Pendidikan (SNP). SIKK bertindak sebagai pusat kendali dalam berbagai aspek, mulai dari pengelolaan kurikulum, pembinaan tenaga pendidik, administrasi kesiswaan, manajemen keuangan, pengelolaan sarana-prasarana, hingga tata kelola kelembagaan. Untuk mendukung tugas ini, SIKK memiliki Divisi CLC yang bertugas secara khusus mengoordinasikan segala bentuk pendampingan dan pembinaan terhadap seluruh CLC binaan.

Sebagai bagian dari sistem pembinaan berkelanjutan, SIKK melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) setiap tahun. MONEV merupakan instrumen penting yang digunakan untuk mengukur tingkat keterlaksanaan program, efektivitas manajemen, serta mutu penyelenggaraan pendidikan di masing-masing CLC. Melalui MONEV, tim dari SIKK dapat memperoleh gambaran menyeluruh tentang kondisi riil setiap CLC, baik dari sisi akademik maupun non-akademik.
MONEV juga membantu mengidentifikasi berbagai kendala, seperti kekurangan guru, pelaksanaan kurikulum yang belum sesuai, komunikasi yang belum lancar antara guru dan pengelola, serta minimnya dukungan dari perusahaan tempat CLC beroperasi. Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk menyusun rekomendasi, tindak lanjut, pelatihan, dan perbaikan administrasi maupun fasilitas.
Lebih dari sekadar proses penilaian, MONEV mencerminkan komitmen SIKK terhadap peningkatan mutu pendidikan anak-anak Indonesia di Malaysia. Data hasil MONEV juga menjadi dasar kebijakan yang disusun oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).
MONEV sekaligus memperkuat kerja sama antara SIKK, Perwakilan RI, dan pihak perusahaan (syarikat) yang menyediakan fasilitas CLC. Dukungan perusahaan sangat penting karena mereka menyediakan tempat belajar, rumah guru, hingga transportasi bagi siswa. Karena itu, MONEV juga menjadi ajang dialog antara semua pihak yang terlibat.
Pada tahun 2025, Monev dilaksanakan oleh tim SIKK yang terbagi atas 14 tim dengan pembagian titik lokasi meliputi Sandakan, Kinabatangan 1, Kinabatangan 2, Kinabatangan 3, Lahad Datu, Kunak, Tawau Balung Semporna, Kalabakan, Keningau-Bingkor, Pedalaman Nabawan, Pedalaman Beaufort, Pantai Barat dan Sarawak. Pelaksanaan monev berlangsung secara serentak mulai tanggal 13-16 November 2025. Insrumen penilaian monev 2025 terus berkembang dan menyesuaikan perkembangan meliputi aspek Kurikulum, Kesiswaan, Humas, Sarana dan Prasarana, Keuangan, Ke-CLCan, dan Litbang.

Kepala SIKK, bapak Sahyuddin, S.Pd., MA TESOL, dalam koordinasi Tim Monev menegaskan bahwa pelaksanaan monev bukan hanya menjadi agenda pelaksanaan agenda rutin melainkan monev menjadi salah satu cara untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan di CLC.
Pelaksanaan MONEV 2025 menjadi bukti komitmen SIKK untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di seluruh CLC. Dengan kerja sama antara SIKK, guru, pengelola CLC, perusahaan, dan Perwakilan RI, berbagai tantangan di lapangan dapat diidentifikasi dan dicarikan solusinya.
Melalui koordinasi yang kuat dan pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan setiap CLC mampu memberikan layanan pendidikan yang semakin baik bagi anak-anak Indonesia di Sabah dan Sarawak. Upaya bersama ini memastikan bahwa hak pendidikan mereka tetap terpenuhi dan menjadi bekal penting untuk masa depan mereka. (*) (penulis: Divisi CLC SIKK)
