Kota Kinabalu, Malaysia — Semangat dan harapan menyelimuti pembukaan Seleksi Beasiswa Gema Cita 2026, sebuah program pendidikan yang membuka kesempatan bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia melalui jalur beasiswa afirmasi, pada Kamis, 12 februari 2026. Program ini menjadi salah satu upaya nyata dalam memastikan bahwa generasi muda Indonesia di perantauan tetap memperoleh akses pendidikan yang layak dan berkualitas.
Kegiatan pembukaan seleksi berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan harapan agar seluruh proses seleksi berjalan lancar. Setelah itu, sambutan disampaikan oleh ketua pelaksana dan kepala sekolah, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi penyematan tanda peserta seleksi Gema Cita 2026 kepada para calon peserta. Rangkaian kegiatan pembukaan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan antara peserta, panitia, dan para pendidik yang terlibat dalam program ini.
Dalam sambutannya, Ketua Gema Cita 2026, Pak Aksar, menyampaikan bahwa program ini merupakan kesempatan berharga bagi anak-anak PMI untuk meraih masa depan melalui pendidikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan dalam mengikuti seleksi bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah, melainkan melalui perjuangan bersama. Para siswa harus berjuang menunjukkan kemampuan terbaiknya, para guru berjuang mendampingi proses belajar, panitia bekerja keras menyelenggarakan seleksi, dan orang tua pun berjuang memberikan dukungan bagi anak-anak mereka.
“No pain, no gain. Siswa berjuang, guru berjuang, panitia berjuang, orang tua juga berjuang. Sekali layar terkembang, pantang kembali ke dermaga,” ujar Pak Aksar dalam pesannya kepada para peserta. Ia juga mengingatkan agar para siswa yang mengikuti seleksi memiliki tekad kuat untuk menjalani proses dari awal hingga akhir. Menurutnya, keberhasilan dalam seleksi bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan justru awal dari perjuangan yang lebih besar dalam menempuh pendidikan.
Seleksi Beasiswa Gema Cita tahun ini terbagi menjadi dua kelompok peserta berdasarkan rentang usia. Kelompok pertama terdiri dari siswa berusia 12 hingga 13 tahun yang berasal dari 22 CLC dengan jumlah peserta mencapai 423 siswa. Sementara itu, kelompok kedua terdiri dari siswa berusia 14 hingga 15 tahun yang juga berasal dari 22 CLC dengan total 429 peserta. Secara keseluruhan, proses penjaringan tahun ini melibatkan sekitar 800 siswa yang akan mengikuti tahapan seleksi.
Dari jumlah tersebut, kuota beasiswa yang tersedia diperkirakan mencapai sekitar 700 kursi. Sebagian besar kuota dialokasikan untuk wilayah Sabah dengan jumlah sekitar 600 siswa. Selain itu, terdapat sekitar 50 kuota bagi siswa yang berasal dari Kuala Lumpur dan wilayah Semenanjung Malaysia, serta 50 kuota lainnya bagi siswa yang berasal dari Jeddah dan Riyadh.
Sebelum tahapan seleksi dimulai, pihak sekolah bersama para guru telah melakukan berbagai upaya sosialisasi untuk menjangkau para calon peserta. Kepala sekolah bahkan melakukan sosialisasi langsung hingga ke Tawau bersama sejumlah guru yang menyambangi titik-titik yang telah ditentukan. Melalui kegiatan ini, para siswa dan orang tua mendapatkan informasi lengkap mengenai program beasiswa, prosedur pendaftaran, serta persyaratan yang harus dipenuhi.
Proses seleksi sendiri dilakukan melalui beberapa tahapan yang cukup ketat. Peserta terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan pengurusan dokumen penting seperti paspor. Setelah itu, mereka akan mengikuti berbagai bentuk penilaian yang meliputi tes akademik, tes minat dan bakat, pemeriksaan kesehatan, serta wawancara. Setelah seluruh tahapan tersebut selesai dilaksanakan, panitia akan mengumumkan hasil seleksi bagi para peserta yang dinyatakan lolos.
Bagi peserta yang berhasil melewati proses seleksi, tahapan selanjutnya adalah pengurusan dokumen Special Pass sebagai bagian dari proses administrasi keberangkatan. Para siswa yang terpilih direncanakan akan diberangkatkan ke Indonesia pada sekitar awal Juli 2026 untuk memulai perjalanan pendidikan mereka.
Dalam kesempatan yang sama, Pak Sahyuddin menjelaskan bahwa pelaksanaan program Gema Cita tahun ini dilakukan lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sosialisasi telah dimulai sejak Januari, sementara proses seleksi dilaksanakan pada bulan Februari. Langkah ini diambil agar rangkaian kegiatan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah puasa bagi para peserta dan keluarga mereka.
Ia juga mengungkapkan bahwa minat siswa terhadap program pendidikan afirmasi terus meningkat setiap tahunnya. Dari sekitar 1.700 lulusan SMP tahun 2026 di wilayah Sabah dan Sarawak, tercatat sebanyak 895 siswa mendaftarkan diri dalam program ADEM. Para pendaftar tersebut berasal dari berbagai wilayah, termasuk Johor Baru, Sabah, Sarawak, hingga komunitas Indonesia di Jeddah dan Riyadh.
Pak Aksar menegaskan bahwa kesempatan mendapatkan beasiswa ini merupakan bentuk perhatian dan tanggung jawab pemerintah Indonesia terhadap anak-anak PMI di luar negeri. Oleh karena itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat mensyukuri kesempatan tersebut dengan menunjukkan kesungguhan dalam belajar serta komitmen menjalani pendidikan dengan baik.
Ia juga mengingatkan bahwa para penerima beasiswa repatriasi tidak diperkenankan kembali sebelum menyelesaikan pendidikan mereka hingga lulus dari program ADEM di tingkat SMA. Namun perjalanan pendidikan mereka tidak berhenti sampai di sana. Para siswa juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) yang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak PMI.
Melalui program Gema Cita, ratusan siswa kini memulai langkah penting menuju masa depan yang lebih cerah. Program ini tidak hanya menjadi pintu menuju pendidikan, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi generasi muda Indonesia di perantauan untuk terus bermimpi, berjuang, dan mengukir masa depan melalui jalur pendidikan.
