Sabah, Malaysia — Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional melaksanakan kegiatan pembelajaran reflektif berbasis storytelling bagi sekitar 45 remaja dan 5 pendidik di Community Learning Center (CLC) Nusantara Sandakan, Sabah, Malaysia, pada 1-2 September 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang bagi remaja untuk mengenali diri, mengidentifikasi kekuatan dan nilai yang dimiliki, membicarakan aspirasi, serta memetakan langkah yang dapat ditempuh menuju masa depan yang mereka harapkan.
Program tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kesiapan masa depan remaja tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan memahami diri, mengomunikasikan gagasan, menyusun aspirasi, mengenali tantangan, dan menentukan langkah yang realistis. Semua hal tersebut merupakan bagian penting dari proses perkembangan diri. Karena itu, kegiatan dikemas secara partisipatif melalui percakapan reflektif, pemetaan diri, dan storytelling, bukan sekadar penyampaian materi satu arah.
Belajar Mengenali Diri melalui Percakapan Reflektif
Salah satu perangkat yang digunakan adalah Future Conversation Cards (FCC), yaitu seperangkat kartu percakapan reflektif yang membawa peserta mengeksplorasi enam tema: Who I Am, My Values, My Strengths, My Dreams, My Challenges, dan My Next Step. Setiap pertanyaan berfungsi sebagai pemantik untuk membantu peserta berhenti sejenak, berpikir, bercerita, dan mendengarkan pandangan orang lain.
Kartu tidak dirancang untuk menghasilkan jawaban benar atau salah. Peserta justru diberikan ruang untuk memilih seberapa jauh mereka ingin bercerita. Percakapan dimulai dari pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti siapa dirinya, apa yang menjadi kekuatan, apa yang dianggap penting, hingga apa yang ingin dicapai. Dengan cara ini, pembicaraan tentang masa depan tidak dimulai dari tuntutan untuk segera menentukan profesi, melainkan dari proses mengenali diri.
Dari Percakapan Menuju Peta Masa Depan
Setelah melalui sesi percakapan, peserta melanjutkan refleksi menggunakan My Future Story Map. Media ini membantu peserta mengorganisasi pemikiran mengenai diri dan masa depan ke dalam tujuh bagian, yaitu This Is Me, My Strengths, What Matters to Me, My Dream, My Challenge, My Path, dan My First Step.
Melalui Story Map, peserta tidak hanya menuliskan cita-cita, tetapi juga menghubungkan kondisi dirinya saat ini dengan kekuatan yang dimiliki, nilai yang dianggap penting, impian, tantangan yang mungkin dihadapi, jalan yang perlu ditempuh, serta satu langkah awal yang dapat dilakukan. Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar untuk menyusun My Future Story, yaitu narasi singkat mengenai diri dan masa depan yang ingin mereka bangun.
Salah satu peserta, Maria Margareta, menggambarkan bahwa proses tersebut membuat pembicaraan mengenai cita-cita menjadi lebih konkret dan personal.
“Awalnya saya berpikir kalau ditanya masa depan, saya cukup menjawab ingin menjadi apa. Setelah mengisi Story Map, saya jadi memikirkan apa yang saya sukai, apa kekuatan saya, hal apa yang perlu saya pelajari, dan langkah kecil apa yang bisa saya mulai. Jadi saya bukan hanya menulis cita-cita, tetapi mulai memikirkan bagaimana cara menuju ke sana.”
Storytelling sebagai Ruang untuk Menyuarakan Aspirasi
Pendekatan storytelling menjadi bagian penting karena peserta tidak berhenti pada pengisian lembar kerja. Mereka diajak mengartikulasikan hasil refleksi menjadi cerita yang memiliki hubungan antara pengalaman saat ini dan gambaran masa depan. Storytelling dalam kegiatan ini tidak semata-mata ditempatkan sebagai latihan berbicara di depan umum, tetapi sebagai sarana untuk membantu peserta memahami dan menyuarakan narasi tentang dirinya.
Peserta tetap memiliki kendali atas cerita yang ingin dibagikan. Bagian yang dianggap terlalu pribadi dapat dilewati, sementara pendidik berperan menciptakan ruang percakapan yang aman, terbuka, dan tidak menghakimi. Pendekatan ini penting agar refleksi tidak berubah menjadi tekanan untuk mengungkap pengalaman personal.
Transfer Pengetahuan untuk Mendukung Keberlanjutan di CLC
Selain mendampingi remaja, program juga memberikan perhatian pada keberlanjutan penggunaan perangkat oleh para pendidik. Future Conversation Cards dan My Future Story Map dirancang agar dapat digunakan kembali dan diadaptasi untuk aktivitas pengenalan diri, komunikasi, refleksi, perencanaan masa depan, maupun kegiatan pembelajaran lain sesuai kebutuhan peserta.
Pengelola CLC Nusantara Sandakan, Halisa, menyampaikan apresiasi atas kegiatan dan transfer pengetahuan yang diberikan oleh dua dosen UPN “Veteran” Jawa Timur, Dewi Deniaty Sholihah dari bidang Manajemen dan Ilmatus Sa’diyah dari bidang Linguistik.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dewi Deniaty Sholihah dan Ibu Ilmatus Sa’diyah atas ilmu, pengalaman, dan perangkat pembelajaran yang dibagikan kepada kami. Kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman baru bagi anak-anak, tetapi juga menambah referensi bagi para pendidik untuk mengajak mereka berkomunikasi, mengenali diri, dan membicarakan masa depan dengan cara yang lebih menarik. Kami berharap pendekatan seperti ini dapat terus digunakan dan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran di CLC.”
Kolaborasi Manajemen dan Linguistik
Program PkM Internasional ini dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan bidang Manajemen dan Linguistik. Dewi Deniaty Sholihah, dosen bidang Manajemen sekaligus ketua tim, berperan dalam perancangan program, pengembangan pendekatan future readiness, serta integrasi antara refleksi diri, aspirasi masa depan, dan perangkat pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan.
Sementara itu, Ilmatus Sa’diyah dari bidang Linguistik berkontribusi dalam pengembangan aspek komunikasi reflektif, pemilihan bahasa yang sesuai bagi peserta, serta penguatan pendekatan storytelling agar aktivitas mampu membantu peserta mengartikulasikan pengalaman dan gagasannya secara lebih terstruktur.
Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa dari bidang Linguistik dan Manajemen dalam tahap persiapan, pengembangan dan penelaahan materi, penyusunan perangkat pembelajaran, serta dukungan pengemasan media. Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan pengabdian tidak hanya berlangsung pada saat kegiatan lapangan, tetapi juga melalui proses kolaboratif sejak perancangan hingga pengembangan produk.
Mewujudkan Semangat Kampus Berdampak
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi semangat Kampus Berdampak, yakni ketika pengetahuan dan kepakaran perguruan tinggi tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi diterjemahkan menjadi solusi dan perangkat yang dapat digunakan oleh masyarakat. Dalam konteks kegiatan ini, kontribusi perguruan tinggi diwujudkan melalui transfer pengetahuan, pengembangan media pembelajaran, pendampingan langsung, serta penguatan kapasitas pendidik dan remaja di lingkungan CLC.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa dampak pengabdian tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya sebuah kegiatan, tetapi dari kebermanfaatan pengetahuan dan perangkat yang dapat dilanjutkan oleh mitra. Keterlibatan pendidik CLC menjadi penting agar praktik komunikasi reflektif dan storytelling dapat diadaptasi sesuai kebutuhan lokal setelah rangkaian program selesai.
Mendukung SDG 4 dan SDG 17
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini memiliki keterkaitan terutama dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4: Quality Education. Pembelajaran yang memberikan ruang bagi remaja untuk mengenali diri, berkomunikasi, menyusun aspirasi, dan menentukan langkah masa depan merupakan bagian dari upaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang relevan dan berpusat pada perkembangan peserta. Penguatan kapasitas pendidik untuk menggunakan perangkat pembelajaran reflektif juga mendukung peningkatan kualitas praktik pendidikan.
Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kolaborasi lintas negara antara perguruan tinggi Indonesia dan CLC di Sabah. Kemitraan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, keahlian, dan perangkat pembelajaran serta menunjukkan bagaimana kerja sama antarinstansi dapat mendukung tujuan pendidikan dan pemberdayaan secara berkelanjutan.
Dari Mengenali Diri Menuju Langkah Pertama
Ketua tim PkM Internasional UPN “Veteran” Jawa Timur, Dewi Deniaty Sholihah, menjelaskan bahwa program tersebut tidak dimaksudkan untuk meminta peserta segera menentukan masa depannya secara pasti.
“Kami tidak ingin langsung meminta anak-anak menentukan akan menjadi apa di masa depan. Kami ingin mereka memulainya dengan mengenali diri, memahami kekuatan dan nilai yang dimiliki, kemudian berani membicarakan impiannya. Dari sana, mereka diajak melihat bahwa masa depan dapat mulai dibangun melalui satu langkah kecil yang realistis hari ini.”
Melalui pembelajaran reflektif berbasis storytelling, PkM Internasional melalui pendanaan DIPA UPN “Veteran” Jawa Timur diharapkan tidak hanya menghadirkan pengalaman belajar selama kegiatan berlangsung, tetapi juga meninggalkan perangkat dan pendekatan yang dapat terus dikembangkan oleh pendidik dalam mendampingi remaja untuk mengenali diri, menyuarakan aspirasi, dan mulai menata perjalanan masa depannya.
#sdg4upnjatim #sdg17upnjatim #sdgsupnjatim #clcnusantara
