SIKK

Yukata, Origami, dan Tosenkyo Menyatukan Persahabatan Indonesia–Jepang

Kota Kinabalu, 26 Februari 2026 — Aula Kinabalu Japanese School (KJS) siang itu dipenuhi tawa para siswa ketika Kepala Sekolah Kinabalu Japanesse School (KJS)  membuka sambutannya dengan candaan tentang tokoh anime. “Saya tidak punya kantong seperti Doraemon,” kata Kocjho Sensei, tersenyum kepada para siswa yang duduk di hadapannya. “Dan saya juga tidak bisa berlari secepat Naruto, karena saya sudah tua.” Candaan itu langsung memecah keheningan dan membuat suasana menjadi cair.

Rombongan dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) datang memenuhi undangan dari Kinabalu Japanese School dalam rangka kegiatan pertukaran budaya.  Kunjungan ini merupakan bagian dari hubungan silaturahmi yang telah terjalin rutin antara kedua sekolah. Tahun sebelumnya, pihak KJS berkunjung ke SIKK. Kini giliran siswa dan perwakilan SIKK yang hadir di kampus KJS untuk merasakan pengalaman budaya Jepang secara langsung.

Delegasi SIKK dalam kegiatan ini turut didampingi oleh tim Humas SIKK, yakni Ibu Shelya Regina, Ibu Siryana Nurjanah, dan Bapak Wilddan Rezzy Septiand, yang sekaligus mendokumentasikan serta memperkuat komunikasi kerja sama antara kedua institusi pendidikan tersebut.

Dalam sambutannya, Kocho Sensei menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan para siswa dari SIKK. Ia menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar memperkenalkan budaya Jepang, melainkan juga membangun persahabatan di antara para siswa.

“Kami ingin berteman dan bersenang-senang bersama,” ujarnya.

Acara kemudian dipandu oleh Miss Debora, yang membuka sekaligus mengarahkan jalannya kegiatan silang budaya hingga penutupan. Ia mengajak para siswa untuk melihat kegiatan ini sebagai kesempatan untuk saling belajar memahami budaya yang berbeda.

Perwakilan siswa dari Kinabalu Japanese School, Fujimura Sakuto, turut menyampaikan pidato singkat yang hangat. Dengan bahasa Inggris sederhana, ia mengungkapkan kegembiraannya bisa bertemu dan berinteraksi dengan siswa dari SIKK.

Terima kasih sudah berteman dengan kami. Meski bahasa kita berbeda, kita masih bisa terhubung,” ujarnya. Ia kemudian mengajak para peserta untuk menikmati setiap momen kegiatan bersama sebagai bagian dari pengalaman pertukaran budaya.

Setelah sesi sambutan, suasana aula berubah menjadi lebih hidup. Para siswa SIKK diajak mencoba berbagai pengalaman budaya Jepang secara langsung.

Beberapa siswa tampak antusias mengenakan yukata, pakaian tradisional Jepang yang identik dengan festival musim panas. Mereka saling membantu merapikan lipatan kain sambil tertawa ketika mencoba berjalan dengan pakaian yang terasa baru bagi mereka.

Di sudut lain ruangan, sekelompok siswa mencoba permainan tradisional Jepang Tosenkyo, sebuah permainan menggunakan kipas untuk menjatuhkan target tertentu. Meski terlihat sederhana, permainan ini membutuhkan ketepatan dan teknik. Setiap kali target berhasil dijatuhkan, sorak kecil terdengar dari para peserta.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan kelas origami, seni melipat kertas yang telah menjadi bagian penting dari budaya Jepang. Dengan penuh konsentrasi, para siswa mengikuti instruksi untuk melipat kertas menjadi bentuk Gunung Fuji, simbol ikonik negeri Sakura.

Pengalaman budaya semakin lengkap ketika para siswa mengikuti kelas kaligrafi Jepang. Di meja panjang yang dipenuhi kuas dan tinta hitam, mereka belajar membuat goresan karakter dengan teknik tradisional. Dalam sesi ini, seorang siswa Jepang bernama Sho turut mendampingi peserta dengan memperagakan cara menulis kaligrafi serta membantu para siswa mencoba menulis karakter dengan benar.

Sepanjang kegiatan berlangsung, batas bahasa seakan tidak lagi menjadi penghalang. Para siswa saling berbincang dengan campuran bahasa Inggris sederhana, gerakan tangan, dan tentu saja tawa.

Bagi SIKK, kegiatan ini lebih dari sekadar kunjungan sekolah. Pertemuan seperti ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan dua budaya dalam suasana yang hangat dan menyenangkan. Hubungan sister school antara SIKK dan Kinabalu Japanese School diharapkan terus berlanjut sebagai jembatan persahabatan sekaligus sarana memperluas wawasan global para siswa.

Di akhir kegiatan, para siswa  SIKK juga menampilkan pidato berbahasa Jepang  dan persembahan silat yang memukau.  Persembahan SIKK itu menutup acara dengan penuh kebahagiaan.

Seluruh Siswa SIKK yang mengikuti acara pulang dengan membawa kenangan dan persahabatan.  Mereka membawa pulang sesuatu yang lebih penting: pengalaman bertemu teman baru dari negara lain dan kenangan tentang sebuah hari ketika budaya menjadi bahasa persahabatan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *