SIKK

Dari Ladang Sawit ke Layar Pembelajaran: Kisah Siswa PJJ SIKK di Sabah

Kota Kinabalu, 6 Maret 2026 — Di antara deretan pohon kelapa sawit yang menjulang di ladang FGV Sahabat, Lahad Datu, seorang siswi duduk bersila di atas batang kayu yang tumbang. Di tangannya terbuka sebuah buku pelajaran.  Di tengah hamparan kebun sawit yang jauh dari hiruk pikuk kota, proses belajar itu berlangsung sederhana—tanpa ruang kelas permanen, tanpa papan tulis. Namun, dari tempat itulah cerita tentang perjuangan pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri sedang direkam.

Adegan tersebut menjadi bagian dari proses pembuatan video pembelajaran jarak jauh SMA PJJ Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) yang dilakukan oleh Tim Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK–PLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Selama tiga hari, sejak 4 hingga 6 Maret 2026, tim tersebut menyusuri kawasan CLC FGV Sahabat Lahad Datu dan CLC Hanim di Sabah, Malaysia, untuk mendokumentasikan bagaimana pendidikan tetap berjalan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia.

Bagi banyak siswa Indonesia di Sabah, melanjutkan pendidikan setelah SMP bukan perkara sederhana. Daya tampung SMA di SIKK terbatas. Biaya hidup dan tempat tinggal di Kota Kinabalu pun tidak selalu terjangkau bagi keluarga pekerja ladang. Belum lagi persoalan dokumen kependudukan yang kerap tidak lengkap.

Situasi itulah yang melahirkan Program SMA Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) SIKK, sebuah solusi pendidikan yang memungkinkan siswa tetap belajar dari tempat tinggal mereka di kawasan perkebunan atau wilayah terpencil.

“Program ini hadir untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia di luar negeri tetap memperoleh hak pendidikan yang sama,” ujar salah satu anggota tim PK–PLK saat melakukan observasi kegiatan belajar di CLC.

Selama tiga hari kegiatan, tim yang terdiri dari Bapak Cecep Somantri, S.S., M.A., Ph.D., Ibu Rika Rismayanti, S.Sos., Ibu Windha Anggun Aprillia, S.Sos., Bapak Ahmad Syaiful Anwar, S.Ds., Bapak Dhoni Nurcahyo, S.T., dan Ibu Nanik Ismawati, S.Sos., M.Pd., mendokumentasikan berbagai aktivitas belajar siswa SMA PJJ SIKK.

Mereka tidak bekerja sendiri. Dari SIKK turut hadir Bapak  Mudrika, M.Pd., sementara di lapangan kegiatan didampingi oleh Bapak Hendrawan, S.Pd.I., Gr., guru dari CLC FGV Sahabat.

Hari pertama dimulai sejak pagi. Tim PK–PLK berangkat dari Kota Kinabalu menuju Lahad Datu pukul 07.15 dan tiba sekitar satu jam kemudian. Setelah beristirahat sejenak, rombongan langsung menuju CLC FGV Sahabat TKB Embara Budi.

Kedatangan mereka disambut oleh empat siswa SMA PJJ yang tinggal di kawasan tersebut: Jumardi, Arya Kamandanu, Muhammad Zikrullah, dan Andika. Sore itu mereka mengikuti sesi briefing sekaligus pengambilan beberapa adegan awal yang menggambarkan aktivitas belajar di lingkungan CLC.

Namu,  cerita yang paling menyentuh muncul pada hari kedua.  Pagi-pagi sekali, tim bergerak menuju rumah salah satu siswi SMA PJJ, Kasmiyanti. Perjalanan dimulai dari CLC Embara Budi, setelah sebelumnya tim menyempatkan diri berbincang dengan para guru serta siswa SD dan SMP yang belajar di sana.

Suasana hangat terasa ketika anak-anak CLC dengan penuh rasa ingin tahu mengelilingi rombongan tim dokumentasi. Bagi mereka, kedatangan tim dari Jakarta dan SIKK menjadi pengalaman yang jarang terjadi.

Setibanya di rumah Kasmiyanti, proses pengambilan gambar dimulai. Kamera merekam rutinitas sehari-harinya—membersihkan rumah, membantu pekerjaan keluarga, hingga mengikuti kegiatan belajar SMA PJJ SIKK.  Di sela aktivitas tersebut, Kasmiyanti juga mengikuti pembelajaran jarak jauh yang dilakukan baik secara daring maupun luring.

Bagi tim PK–PLK, adegan-adegan ini menjadi penting. Bukan sekadar untuk video pembelajaran, tetapi untuk menunjukkan kondisi nyata pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri.  “Kami ingin memperlihatkan bagaimana mereka belajar dalam keterbatasan, tetapi tetap memiliki semangat yang luar biasa,” ujar salah satu anggota tim.

Pada hari ketiga, rombongan kembali ke Kota Kinabalu melalui Bandara Lahad Datu. Namun pekerjaan belum selesai. Tim langsung melanjutkan kunjungan ke CLC Hanim, salah satu pusat kegiatan belajar bagi anak-anak Indonesia di Sabah.  Di sana, mereka bertemu dengan Sisilia Gres Bokilia, seorang siswi yang turut menjadi narasumber dalam proses pembuatan video.

Setelah briefing singkat, proses pengambilan gambar kembali dilakukan. Sisilia memperagakan aktivitas belajar serta menjelaskan bagaimana program PJJ membantu dirinya tetap bersekolah meskipun berada jauh dari pusat kota.  Kegiatan tersebut menutup rangkaian kerja tim PK–PLK di Sabah.

Dari kegiatan ini, berbagai aktivitas pembelajaran siswa berhasil terdokumentasi secara utuh—mulai dari proses belajar di CLC hingga rutinitas siswa di rumah. Informasi mengenai berbagai tantangan di lapangan, seperti keterbatasan sarana prasarana, akses teknologi, hingga jaringan internet, juga berhasil dihimpun.

Video yang dihasilkan dari kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga bahan informasi dan evaluasi bagi pengembangan program pendidikan jarak jauh oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Bagi SIKK sendiri, kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di wilayah yang sulit dijangkau.

Di tengah ladang sawit Sabah, ruang kelas memang tidak selalu berbentuk bangunan sekolah. Kadang ia hadir dalam bentuk layar gawai sederhana, jaringan internet yang terbatas, dan tekad kuat seorang siswa untuk tetap belajar.  Namun,  dari tempat-tempat seperti inilah, harapan pendidikan Indonesia tetap tumbuh.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *